Books

Bio Banking _ Marketplace

Bio Banking & Marketplace

Dr. Hanafi Sofyan

Solusi Bangun Nusantara

email : sbn.publika@gmail.com

www.greenadab.com

Perpustakaan Nasional: Katalog alam Terbitan (KDT)

Sofyan, Hanafi

Bio Banking & Marketplace, Hanafi Sofyan

                Cet. 1- Jakarta: SBN Publika, 2019

  • xii,  ………… hlm, 21 cm
  • ISBN 978-623-91839-0-5
  •  
  •                                                 I. Judul
  • Pertama kali diterbitkan dalam Bahasa Indonesia oleh Penerbit Solusi Bangun Nusantara, Agustus 2019, Jakarta

Hak Cipta pada penulis

Desain Sampul: QAMedia

Penata teks: Muhamad Muhtar

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang

Dilarang mengutip atau memerbanyak sebagian

atau seluruh isi buku tanpa izin tertulis dari Penerbit

Solusi Bangun Nusantara

email: sbn.publika@gmail.com

Contents

Apa itu biodiversitas

Manfaat bagi dunia dan Indonesia

Ketidaktahuan mendatangkan bencana dan kerugian

Aset Tak ternilai (Intangibel asset) yang harus di komoditisasi dan direcovery

Kebijakan No-Net Loss

Biobanking

Bio Offset dan Marketplace

Dari pasar kembali ke alam dan masyarakat adat.

Kata Pengantar

Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan dan keanekaragaman hayati terbesar di dunia, baik di darat, laut dan udara. Selain kekayaan ini tidak dikenal nilai intrinsic dan nilai pasarnya, kekayaan ini pun terancam punah karena selain tidak dipahami nilainya, sehingga memberi ijin ke pihak lain untuk merusak dan mengeksploitasi; juga tidak memiliki dana untuk memproteksi keanekaragaman hayati dari kepunahan.

Buku ini mengantar pembaca kepada dunia yang hanya diminati dan dipahami segelintir orang, yaitu bagaimana biobanking dan bio offset beroperasi di dunia nyata; dan bagaimana membuat regulasi seperti no-net loss, sehingga kita tidak menyia-nyiakan kekayaan keanekaragaman hayati ini, yang diakui dunia seperti PBB dengan badan konservasi biodiversitinya yang sudah menilai kontribusi Memberamo (Papua) dan Coral Triangle bagi keseimbangan biodiversitas dunia. Dengan rusaknya keseimbangan ini berarti Indonesia mengalami kerugian besar, dan karena belum terlibat di pasar biodiversity (digital marketplace) dan tidak tahu bagaimana memvaluasi dan mengkomoditisasi biodiversity sehingga layak di offset oleh perusahaan yang memiliki ijin tetapi berpotensi merusak lingkungan.

Berdasarkan pengalaman penulis terlibat dalam BBOP, Forest Asset Manageent, dan  Malua Project di Sabah, serta menjadi advisor di Earthmind (Switserland) dan terlibat dalam Amsterdam Biodiversity Market, maka sudah selayaknya hal di sebarluaskan kepada khalayak yang berkepentingan, agar Indonesia mendapatkan manfaat dari kekayaan ini, dan tidak dibebani biaya merehabilitasinya dari kerusakan ulah manusia yang berlindung dengan selembar perijinan.

Dr. Hanafi Sofyan