Books

Climate Finance & Green Growth

Climate Finance & Green Growth

Dr. Hanafi Sofyan

Solusi Bangun Nusantara

email : sbn.publika@gmail.com

www.greenadab.com

Perpustakaan Nasional: Katalog alam Terbitan (KDT)

Sofyan, Hanafi

Climate finance dan green growth, Hanafi Sofyan

Cet. 1- Jakarta: SBN Publika, 2019

  • xii,  ……….. hlm, 21 cm
  • ISBN 978-623-91839-2-9
  •   I. Judul
  • Pertama kali diterbitkan dalam Bahasa Indonesia oleh Penerbit Solusi Bangun Nusantara, Agustus 2019, Jakarta

Hak Cipta pada penulis

Desain Sampul: QAMedia

Penata teks: Muhamad Muhtar

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang

Dilarang mengutip atau memerbanyak sebagian

atau seluruh isi buku tanpa izin tertulis dari Penerbit

Solusi Bangun Nusantara

email: sbn.publika@gmail.com

DAFTAR ISI

Pendanaan Iklim

Komitmen global, multilateral dan bilateral

Indonesia di pusaran program: antara enerji dan kehutanan

Smart city dan transportasi

Sektoral strategi dalam mitigasi dan adaptasi

Pendanaan yang sudah dimanfaatkan dan yang tersisa

Tantangan dalam formulasi dan eksekusi program  pendanaan langsung

Status hak lahan, hutan, karbon

Mekanisme pasar, pricing dan trading

Gap Closing bagi Indonesia

Kata Pengantar

Pertemuan COP di Cancun tahun 2011 melahirkan konsep Green Climate Finance, dan akibat krisis keuangan di AS dan Eropa realisasi pendanaan iklim hijau ini mengamali keterlambatan karena hanya berupa komitmen. Dengan terkumpulnya sejumlah dana maka dibuatlah Sekretariatnya di Seoul dan meminta negara-negara yang komit untuk menurunkan emisi untuk mengajukan proposalnya.

Sebelum GCF juga ada beberapa lembaga keuangan multilateral  seperti World Bank dan ADB menawarkan dana keuangan iklim untuk membeli kredit karbon yang sudah dihasilkan, selain itun juga ada investasi dibidang teknologi bersih dan kehutanan.

Mengapa hal ini menjadi ramai dan penting. Apa yang bisa dimanfaatkan Indonesia? Berdasarkan penugasan penulis yang menjadi Penasehat Keuangan Iklim di Bappenas, dan juga dalam menentukan sektor yang bisa dilibatkan dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, maka disusun laporan yang sayangnya tidak tersosialisasikan dengan baikm dan tidak dapat dimonitor apa yang sudah dan akan diimplementasikan.

Oleh karena itu penulis berusaha menjelaskan apa yang dimaksud pendanaan iklim, mengapa Indonesia harus terlibat, apa manfaat dan kerugiannya, serta lembaga apa yang layak menjadi designated national agency (DNA) di Indonesia dan implementor yang terakreditasi. Karena besarnya peluang Indonesia untuk mendapatkan pendanaan iklim, seperti yang sudah dijanjikan pemerintah Norwegia satu milyar dollar di tahun 2010, dan peluang dari GCF yang sudah terbuka di tahun 2019 setelah ditetapkannya Badan Koordinasi Fiskal (BKF) Kementrian Keuangan sebagai DNA, maka saat nya Indonesia untuk aktif dan tidak menunggu untuk mengambil kesempatan dengan mengusulkan program yang layak didanai dan diakui kontribusinya ke iklim dunia.

Semoga buku ini bermanfaat bagi kalangan pemerintah, LSM, dunia akademis, dan pihak-pihak yang berminat.

Dr. Hanafi Sofyan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *